godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Beranda / Artikel / Wajah Islam dalam Tradisi Subak di Bali

Wajah Islam dalam Tradisi Subak di Bali

Seorang profesor sekaligus penulis asal Perancis bernama Michel Picard menyebut Bali adalah “Pulau Seribu Pura”. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa mayoritas masyarakat Bali menganut kepercayaan agama Hindu. Hampir di setiap penjuru atau tempat-tempat tertentu akan didirikan Pura-pura sebagai tempat ibadah umat Hindu. Namun, kondisi yang demikian tidak lantas menghilangkan jejak peradaban Islam di Pulau Bali. Salah satunya yaiti Desa Pegayaman yang terletak di Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng-Bali. Berdiri di tengah budaya masyarakat yang mayoritas beragama Hindu menjadikan Desa Pegayaman sebagai salah satu Desa yang unik. Desa Pegayaman adalah desa muslim tertua di Buleleng yang sudah ada sejak masa pemerintahan I Gusti Anglurah Panji Sakti raja Buleleng. Masyarakat beragama Hindu dan Islam yang hidup dalam satu lingkungan tidak menghambat masyarakat untuk saling bertoleransi dalam berbagai bidang kehidupan. Justru karena keberagaman tersebut menjadikan masyarakat untuk saling bertoleransi antara umat beragama. Kehidupan bersama antara umat Hindu dengan umat Islam di Desa Pegayaman menghasilkan tradisi-tradisi Islam yang unik dan berbeda dari tradisi Islam di daerah lain.

Dalam struktur adat masyarakat Bali sangat identik dengan Subak. Bahkan Subak sudah menjadi warisan budaya dunia yang berasal dari Bali. Istilah Subak berasal dari bahasa Bali dan pertama kali ditemukan dalam Prasasti Pandak Bandung yang berangka tahun 1072 M. Subak mengacu pada sebuah lembaga sosial dan keagamaan, memiliki aturan tersendiri, terdapat asosiasi-asosiasi yang demokratis dari petani-petani dalam menetapkan penggunaan untuk irigasi sawah. Subak secara sederhana dapat didefinisikan sebagai sistem tradisonal masyarakat Bali yang mengatur tentang pembagian air, mengatur penggiliran pada pengairan sawah, mengatur irigasi, dan melaksanakan kegiatan upacara. Namun dalam perkembangannya Subak juga menjadi sebuah organisasi di kalangan masyarakat adat. Sebelum proses pengairan di sawah-sawah, biasanya masyarakat Hindu Bali melakukan tradisi Mapag Toya. Mapag Toya yaitu upacara penjemputan air yang akan dialirkan ke sawah-sawah masyarakat. Kegiatan Mapag Toya biasanya dilaksanakan di Pura Subak. Tradisi Mapag Toya dalam masyarakat Hindu ini dilakukan dengan cara-cara dan adat istiadat sesuai dengan aturan dalam agama Hindu.

Masyarakat Desa Pegayaman Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng yang mayoritas Islam juga tetap melestarikan tradisi Mapag Toya. Namun dengan memasukkan nuansa-nuansa Islam dalam pelaksanaannya. Tradisi Mapag Toya di kalangan masyarakat Desa Pegayaman dinamakan Syukuran Subak. Syukuran Subak ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa Syukur masyarakat Kepada Allah SWT. Syukuran Subak dilakukan satu tahun hanya satu kali. Acara Syukuran Subak ini bertempat di Bale tempat penampungan air. Sebelum melakukan syukuran dan berkumpul di Bale bendungan, para kaum lelaki memasak makanan terlebih dahulu untuk dibawa ke Bale bendungan. Setelah itu, semua pergi ke Bale bendungan untuk melakukan ritus doa bersama. Dalam perkumpulan tersebut masyarakat secara bersama-sama membaca Nadzoman Aqidatul Awwam (membaca Abda’u). Kegiatan Syukuran Subak ditutup dengan doa dan makan bersama masyarakat setempat.

Islam sebagai agama yang Rahmatal Lil Alamin tentu tidak menjadikan adat dan tradisi di lingkungan sekitar menjadi musnah dan digantikan dengan tradisi Islam. Sesuai dengan pendekatan dakwah para Walisanga Islam di Nusantara menggunakan pendekatan-pendekatan yang unik. Pengadopsian tradisi agama lama sebelum Islam yang kemudian disisipi dengan nilai-nilai keagamaan Islam. Hal ini sejalan dengan prinsip “Al Mukhafadzotu ‘Ala Qodimissholih, Wal Akhdu Bil Jadidil Ashlah” yang berkembang di kalangan masyarakat Ahlus sunnah wal Jamaah.

Syukuran Subak yang semula adalah tradisi dari Agama Hindhu diadopsi dalam tradisi Islam. Sehingga adat istiadat masyarakat setempat juga tetap terjaga dan dilestarikan. Dalam Syukuran Subak mencerminkan akulturasi kebudayaan antara agama Hindu-Islam. Melalui tradisi Syukuran Subak dapat dilihat betapa Islam adalah agama yang damai dan membawa kasih sayang bagi seluruh mahkluk ciptaan Allah SWT. Islam bukanlah agama yang keras dan memaksa. Islam menerima segala bentuk nuansa baru namun tetap tegas dan konsisten dengan batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam itu sendiri. Islam diterima dalam suatu daerah dan golongan tertentu tidak secara langsung merevolusi tatanan sosial yang ada dalam masyarakat. Islam dengan pendekatan-pendekatan yang arif berusaha merangkul tanpa harus menimbulkan perpecahan di antara sesama makhluk ciptaan Allah SWT.

Rekanita Shofwatul Qolbiyah

Pengurus PC IPPNU Kota Malang & Mahasiswa Universitas Negeri Malang

Lihat Juga

Menjadi Manusia

Fenomena beragama yang kehilangan sisi manusiawinya, ternyata mengundang banyak tanya. Di antara banyak manusia beragama …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.