godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Beranda / Artikel / Opini / Pentingnya Doktrin Almuhafazhah ‘Ala al-Qadimi al-Shalih

Pentingnya Doktrin Almuhafazhah ‘Ala al-Qadimi al-Shalih

Oleh Zaenal Maarif As Sidany

Salah satu Guru saya Sayyid H. Bin M pernah berkata; “Jika Ummat Islam ingin maju, maka harus berani kembali ke pola hidup masa lalu”

Bagaimana pola hidup masa lalu itu? Saya memahaminya sebagai cara hidup yang sederhana, ilmu dan amal yang sederhana pula.

Maksud cara hidup sederhana adalah hidup yang tidak mentargetkan berbagai fasilitas melebihi kebutuhannya.

Maksud Ilmu yang sederhana adalah ilmu yang dimasukkan ke dalam hati tanpa harus banyak bertanya, dalam hal ini yang dimaksud adalah ilmu agama.

Juga tidak membuang buang waktu untuk mempelajari ilmu yang tidak berguna bagi agama dan kehidupan akhiratnya nanti.
Amal yang sederhana adalah beramal dengan apa yang diketahui, tidak mengejar target apapun kecuali RidloNya. Sehingga iapun tidak memaksakan diri beramal kecuali apa yang memberatkan nafsunya. Kalau zaman sekarang kan banyak beramal hanya karena menuruti kesenangan dengan berbagai dalih demi ini dan itu?

Ketika hidup ini telah dipaksa harus memenuhi target target yang diingini, bukan sekedar butuh, maka sudah enak enak punya sepeda motor yang sudah layak mengantarkan ia menuju tempat tempat yang dituju, tetapi keinginannya tiada mau berhenti, sepeda motor harus yang model begini, kecepatannya harus seperti ini, warnanya harus begitu, akhirnya iapun nekat mengambil kredit dengan setoran yang tiap bulannya membuatnya banting tulang peras keringat, begitu ia masih saja menganggap bahwa usahanya adalah demi memenuhi kuwajiban.

Jika hal hal yang seharusnya tidak ia kejar dikejar, dan itu dilakukan oleh semua kalangan, terjadilah persaingan dan perlombaan semu yang satu sama lainnya bisa saling menghancurkan.

Pola dan gaya hidup orang orang kuno baik di dalam rumah tangganya sendiri, di lingkungan desanya maupun komunitas yang lebih besar dan luas ternyata lebih menentramkan dan mentes dalam arti benar benar membuat ia dan komunitasnya menjadi lebih baik dibanding dengan apa yang menjadi gaya orang orang modern, baik yang berkaitan dengan sosial budaya maupun kualitas amaliyahnya.

Nah, seperti yang telah kita ketahui, di dalam NU dan dari zaman kezaman terdapat banyak tokoh yang berkarakter dan telah terbukti membuat NU lebih berwibawa, terhormat, special, dan sangat kuat menjaga ukhuwah islamiyah, wathoniyyah dan basyariyah Indonesia, namun kenapa zaman sekarang seakan akan hanya ada NU yang bergaya Gus Dur saja? Gus Dur kenapa dijadikan icon NU yang seakan akan menghapus semua karakter para tokoh yang sebelumnya? Terbukti adanya kelompok Gusdurian yang mempertegas bahwa NU adalah Gus Dur dalam segala pemikirannya.

Sampai hari ini belum ada sebuah usaha dari kalangan NU sendiri yang mencoba mengangkat, mempelajari, mendiskusikan, menerapkan, dan menterjemahkan pemikiran maupun konsep konsep berNU seperti Kyai As’ad misalnya, atau Kyai Wahab Hasbulloh, Kyai Ali Ma’shum, Kyai Sahal, dan lain sebagainya?

Apakah konsep, gagasan, pemikiran dan wacana Gus Dur adalah yang paling paripurna dari sekian konsep dan pemikiran para tokoh yang sebelumnya?

Padahal jika kita mau jujur, awal NU dihujat, tidak dipercayai, dan dicurigai adalah semenjak ketika Gus Dur berada di ketinggian NU hingga sekarang.
Mohon tulisan saya ini tidak dianggap mengkritik, apalagi menjelek jelekkan NU, tetapi ini hanya sebuah lintasan lintasan pertanyaan di benak saya, mungkin karena efek dari habis meramu #Jamusuwuk, jadi bukan hanya sekujur tubuh saya saja yang panas, tetapi hati dan otak saya ikut terseret dalam gesekan energi min dan plus. Siapa tahu ada juga yang berpikiran sama dengan saya, kemudian sayalah yang mewakili uneg uneg mereka, selanjutnya boleh dibuat bahan diskusi atau evaluasi demi kemajuan berbangsa dan bernegara Indonesia.

Intinya, siapa tahu dengan kembali kepada pola dan gaya orang orang kuno dalam berNU, akan menjadikan berNU kita lebih NU.

Kita tetap kagum dengan pemikiran pemikiran Gus Dur, namun apapun hebatnya pemikiran beliau, kebesaran dan kehebatan beliau, tetapi jika kita terlalu terpesona dan sialau dengan kebesaran beliau, itu akan membuat kita tidak punya keberanian untuk melakukan perubahan perubahan ke arah yang lebih maju. Apapun yang dilakukan Gus Dur adalah Ijtihad waqi, iyyah yang mungkin jika diterapkan dimasa sekarang jadi kurang tepat.

Andai Ummat Islam terlalu terpesona oleh kebesaran, kehebatan dan kesempurnaan Kanjeng Nabi, tidak mungkin dibelakang hari bermunculan para Mujtahid Madzhab.

Salam Ndermimil ToniBoster

Lihat Juga

Pada Siapa Kita Sedang Menghamba?

Beberapa waktu yang lalu, tulisan Mas Hairus Salim (Direktur Eksekutif Yayasan LKiS Yogyakarta) –yang ditulis …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.