godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Beranda / Artikel / Dedikasi Kiai Kampung

Dedikasi Kiai Kampung

Dedikasi Kyai Kampung

 

Sahabat, saya masih ingat waktu awal saya sama sekali belum bisa membaca Al – Qur’an sekitar tahun 90-an.  Saat itu, saya belum mengerti tentang apa itu Islam. Belum pernah dikenalkan oleh keluarga saya tentang mengapa saya memeluk Islam di usia yang mulai beranjak remaja.  Hal ini diKarenakan sejak kecil hingga mengenyam sekolah dasar saya dibesarkan oleh almarhum kakek dan nenek saya. Keduanya beragama Nasrani. Kehidupan sehari-hari saya sewaktu menjelang remaja berada dalam lingkungan tetangga muslim. Satu hal yang masih saya ingat di waktu itu adalah hal berbeda dan tidak pernah dilakukan oleh tetangga muslim, yaitu saya rajin pergi ke gereja sahabat.

Ada pengalaman berkesan sewaktu masih anak-anak, hingga sampai saat ini yang membuat hati saya terkenang. Saya mememiliki sahabat TK dan SD bernama Arif. Ia berasal dari keluarga muslim yang taat. Arif dikenal rajin beribadah terutama di bulan suci Romadhon. Kehidupannya tidak lepas dari puasa Romadhon, sholat tarawih dan tadarus Al – Qur’an.  Para tetangga dan teman yang juga ikut menjalankan ibadah wajib. Melihat halitu,saya semakin menjadi penasaran dan sepertinya ada daya tarik yang kuat untuk turut serta menjalankan ibadah yang sama dengan kawan Muslim saya tersebut.

Kekhawatiran dan ketakutan selaluuncul saat saya ikut menjalankan ibadah puasan Ramadan. Ketakkutan itu berupa penggunjingan yang dilakukan tetangga dan teman – teman saya. Tak hanya itu, kekhawaritan juga muncul dari gunjingan kakek saya. Dalam hati pun menggumam akan kegelisahaan yang saya hadapi. Dada ini terasa berdetak kencang, “ Apakah ini petunjuk dari jalanmu untuk aku lebih mengenalmu ?“, seru saya dalam hati. Dalam waktu kegelisahanitu, kakek saya datang dan seolah – olah beliau mengetahui apa yang saya pikirkan. Kemudian beliau menanyakan, “ Mikir apa kamu le?”, Wah saya kaget dan sontak gugup. “Saya mikir anu?“, kata saya. Sebenarnya saya takut untuk jujur. Namun hal paling utama yang diajari oleh keluarga saya adalah sebuah kejujuran. Karena semua agama pasti mengajarkan demikian. Akan tetapi untuk saat itu,saya belum bisa mengatakan maksud dan niatan saya kepada keluarga saya.

Dengan berjalannya waktu, ketika menjelang akhir Ramadan, saya semakin merasakan magnet penasaran tentang ajaran agama Islam. saya tidak bisa menolak rasa ingin tahu tentang kawan yang melaksanakan ibada puasa ramadan tersebut. Saya mencoba memberanikan diri pada malam hari dengan pakaian yang rapi dan celana jeans panjang, untuk menemui teman saya itu. Waktu itu nampaknya pada kisaran sholat isya’ saya sudah berada di mushola dekat rumahnya. Tujuannya,tidaklain adalah untuk sekedar melihat kebiasaan teman saya “ Arif “, melaksanakan ibadah sholat Isya’ dan tarawih. Rasanya puas bisa melihat teman saya dan senang melihat tetangga nya melaksanakan rangkaian kegiatan ibadah puasa ramadan. Seketika, seperti ada yang mendorong untuk ikut mencoba menjalankan ibadah sholat dan saya hanya mendekat di pagar mushola untuk melihat dengan jarak dekat mata saya. Sebelum kegiatan tersebut selesai, saya bergegas pergi ke rumah.

Setelah Ramadan usai, datanglah idul fitri. ada tradisi yang berlaku di kalangan tetangga yaitu halal – bihalal dan pasti banyak kue di rumah mereka. Selain itu, banyak cerita tentang kerinduan mereka karena ditinggalkan oleh bulan suci ramadan. Bagi umat muslim,Ramadan adalah bulan penuh ampunan dan rahmat Allah Subbhanahu Wata’ala. Saya melihat wajah kakek saya tampak tersenyum dan berbalik menatap ke arah saya. Sepertinya kakek pun terlihat mengangguk saja. “ Tidak terasa menakutkan apabila di rumah nanti saya berterus terang saja kepada kakek dan nenek untuk belajar dan mengenal Islam lebih dalam”, pikir saya. Tiba saatnya kisaran sore hari menjelang saat Magrib, saya memberanikan diri, “Eyang Kung “ (Panggilan kakek bahasa jawa ), saya bermaksud ingin belajar ngaji seperti teman – teman saya, saya ingin sholat, apakah saya boleh belajar?“ saya berusaha mengutarakannnya dengan penuh rasa takut. Beliau pun menjawab di luar dugaan dan tidak seperti pikiran saya, “Apa kamu sudah siap ? dan apa kamu mau menjalankan?”. Saya menjawab “ saya siap dan saya mau menjalaninya.” Tidak ada wajah marah seperti bayangan saya. Beliau bahkan menepuk bahu saya untuk menguatkan saya akan keputusan dari jawaban saya. “ Le (nak), kamu sudah cukup dewasa sekarang, sudah mampu menentukan jalanmu, kami orang tua hanya bisa membesarkan dan menyekolahkanmu. Tapi baik burukmu kamulah yang menentukan apabila yang kamu yakini itu sudah bulat menjadi tujuanmu“, kata Beliau. Bagaimana rasa hati ini sangat terharu mendengar ucapan beliau yang sangat bijak terhadap keputusan saya. Mata ini seperti membendung air hujan dan menetaskan air luapan haru. Hingga saat ini, kenangan beliau sangat mengharukan hati dan pikiran saya di saat mengenang beliau.

Dengan restu dari kakek, nenek dan kedua orang tua, kemudian oleh ayah, saya dititipkan di Majelis Ilmu wa Ta’lim Al – Hikmah di Sawojajar XIII Kecamatan Kedung Kandang kota Malang. Majelis tersebut diasuh oleh K.H Muhammad Ridwan (Almarhum). Beliau adalah Sang Kyai Kampung (sebutan masyarakat sekitar) yang dituakan dari ulama dan ustad di lingkungan kampung saya. Saya sudah bertekad untuk belajar karena ingin membuktikan bahwa saya juga bisa seperti teman saya “Arif“ dalam menjalankan ibadah sholat dan ngaji.

Dalam satu bulan saya belajar hanya dikenalkan huruf hijaiyah dan cara membacanya. Dalam enam bulan saya sudah mampu membaca huruf demi huruf dan huruf hijaiyah bersambung. Harapan saya semoga bulan berikutnya saya bisa di tingkat Al – Qur’an. Ternyata kenyataannya tidak sesuai harapan saya. Setelah bisa membaca Iqro’ dari Iqro’ 1 hingga 6, saya dituntut harus mampu membaca ulang tanpa arahan. Wah, dalam hati saya berkata 7 bulan saya hanya belajar Iqro’ saja. Namun sang kyai di sela beliau mengajarkan kami tentang mengaji, beliau mengajak untuk bagaimana cara wudhu’ dan sholat. Tidak sesuai bayangan saya, yang berfikir begituy enak suasana mengaji. Ternyata tempaan dalam mengaji sangat keras untuk mendisiplinkan santri dalam banyak hal. Nilai lain yang terukir dari sang kyai adalah menghormati guru, tawadhu’ dan membaca dengan benar. Terkadang sang kyai juga membawa penggaris panjang apabila ada bacaan dan tingkah kita yang tidak patut. Sang guru akan melayangkan penggaris panjang itu ke lengan kita agar perbuatan tersebut tidak terulang lagi.

Kehidupan nyantri di kampung mengenalkan saya dengan bagaimana membaca ayat suci Al – Qur’an, cara sholat maupun ibadah lainnya. Berbagai amalan ibadah tersebut seolah menjadikan saya layaknya santri di pondok pesantren. Terkait hal itu,ada sebuah tradisi unik yakni kegiatan bersama menyantap Nasi Liwetan. Tradisi liwetan rutin dilaksanakan apabila santri dinyatakan lulus membaca aL – Qur’an atau kami santri kampong menyebutnya dengan “ Khatam “.

Prosesi tersebut menggambarkan keadaan santri yang sudah khatam al-Qur’an. Prosesinya dilakukan dengan menyelenggarakan wisuda al-Qur’an dan semua teman santri di undang untuk ikut mendoakan. Acara diakhiri dengan makan bersama. Acara makan bersama ini yang jarang ditemui di kalangan umum, yaitu berbagi makanan yang sama dalam satu nampan. Bersamaan acara, sang kyai juga memberikan wejangan tentang sejarah Islam yang masuk di Indonesia khususnya tanah Jawa. Jalan penyebarani ajaran Islam dilakukan melalui perdagangan. Banyak para waliyullah yang menyebarkan agama dengan berdagang. Beliau menceritakan tentang perkembangan Islam dan cara dakwah Islam di Jawa sehingga Islam mudah diterima di kalangan masyarakat Hindu kuno yang konon di bawah naungan Majapahit.

Melihat sejarah Islam Indonesia, banyak didominasi dengan sejarah dakwah. Prinsip dakwah yang digunakan adalah merangkul bukan memukul. Sebagai contoh yang dikisahkan dalam syiar Sunan Kalijaga dengan kisah pewayangan. Seiring berjalanya waktu Islam menjadi besar di nusantara. Dengan tokoh penerus para wali, dikisaran tahun 1926 dibentuklah Nahdhotul Ulama yang didirikan oleh K.H Hasyim Asyari. Tujuan dibentuknya organisasi Nahdhotul Ulama’ adalah wadah dakwah dari para kyai untuk berdakwah di tanah Jawa dan Nusantara. Selain untuk dakwah, bertujuan untuk melindungi kyai dari penjajah Belanda. Tindaklanjut dari tujuan itu dibentuklah Pemuda Hisbullah yaitu cikal bakal Ansor sebagai gerakan pemuda pejuang untuk membentengi ulama dan negara pada 24 April 1934. Hingga sekarang, Nahdhatul Ulama dan Gerakan Pemuda Hisbullah atau saat ini disebut Gerakan Pemuda Ansor berperan aktif dalam mengusir penjajah di era perjuangan maupun ikut melaksanakan pembangunan di era reformasi.

Sudah sepatutnya santri di era millenial selain menempa ilmu agama juga seyogyanya belajar sejarah mengenai perjuangan Kyai – kyai sepuh dahulu. Hal inilah yang membentuk karakter kematangan. Pada akhirnya, tujuan beajar agama tidaklepas dengan nilai tambah yaitu sejarah. Nilai moral yang diberikan selama belajar agama adalah “ Menjadi santri itu harus kaffah “, yaitu belajar meneladani ilmu dan asal usul ilmu dari mana asalnya, dan siapa yang menyebarkannya dengan berbagai cara tersebut.

Tidak terasa selama hampir dua tahun belajar, banyak pelajaran yang saya diapat dipetik di pondok pesantren. Ada pesan tersendiri bagi seluruh santri yaitu menghargai sejarah perjuangan bangsa. Wajib hukumnya kita sebagai santri melanjutkan perjuangan kyai untuk tetap istiqomah berdakwah. Dengan semboyan “ Cintaku dalam Imanku “. Yang artinya Cintai agamamu, cintai Negaramu dalam keteguhan Iman.

Ucapan terimakasih saya dedikasikan kepada keluarga. Tak lupa pula kepada keluarga K.H Ridwan, sosok sang Kyai Kampung yang sudah mendidik saya dan mengenalkan Islam, nilai – nilai Islam dan mencintai tanah air sebagai tanah Nusantara tempat kita berpijak. Maka kecintaan itu saya buktikan dari saat saya belajar, masa kini dan masa depan dengan “ Hubbul Wathon Minal Iman “ yang artinya Cinta Tanah air sebagian dari Iman.

 

Oleh : Indra Hermawan (Santri Kampung, Pengurus Ansor, Satkoryon Banser Kedung Kandang)

Bagikan:

Lihat Juga

Diskusi Terfokus Sinergitas dan Penguatan Peran Tokoh Agama dalam Kontrol Kebijakan Pemerintah Kota Malang

Tokoh agama yang diberi tugas Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) kota Malang yang berada di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.