godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Beranda / Artikel / Uswah / Kyai As’ad, Kealiman dan Kesungguhan Mempelajari Ilmu

Kyai As’ad, Kealiman dan Kesungguhan Mempelajari Ilmu

Sosok Kyai As’ad Syamsul Arifin : Kealiman dan Karya

Kyai As’ad Syamsul Arifin merupakan sosok yang tak asing lagi didengar di kalangan nahdliyyin. Kyai kharismatik yang berjuang di Situbondo ini memiliki kiprah dalam pendirian Nahdlatul Ulama (NU). Beliau lah yang menerima amanat dari Kyai Kholil Bangkalan untuk menyampaikan isyarah tongkat, tasbih, serta ayat Al-Quran kepada Kyai Hasyim Asyari di Tebu Ireng Jombang.

Kealiman Kyai As’ad Syamsul Arifin juga tidak diragukan. Hingga tahun 2003, ditemukan 11 buku karya beliau yang mengupas beragam hal: tauhid, tasawuf, fiqh, sejarah, dan juga persoalan umat Islam ketika beliau hidup. Di luar sebelas buku tersebut masih besar kemungkinan karya beliau yang tidak terpublikasikan. Buku-buku tersebut diantaranya berjudul At-Tajlib al-Barokah fi fadli as-Sa’yi wa al-Harakah dan Tsalats Risa’il.

Dalam tulisan-tulisan beliau yang dibukukan, beliau juga mengutip beberapa kitab sebagai referensi. Ini menunjukkan bahwa beliau sangat rajin membaca. Pernah beliau ditanya berapa banyak kitab yang telah dibacanya, terutama ketika mondok? Beliau menjawab, “Saya sulit menjawabnya. tapi yang jelas, kitab-kitab yang pernah saya pelajari itu serasa masih melekat dalam pikiran saya”.

Kealiman Kyai As’ad semakin dalam dengan pengamalan thoriqoh yang beliau dapatkan dari guru-guru beliau. Kyai As’ad pernah menuturkan, seandainya beliau ingin membuka ‘warung tarekat’ tentu beliau bisa saja. Ini menunjukkan saking banyaknya ijazah tarekat yang beliau dapatkan dan pelajari.

Meneladani Kesungguhan Kyai As’ad dalam Belajar

Kealiman kyai As’ad tentu tidaklah instan tanpa proses panjang. Sejak kecil, beliau mendapat pendidikan yang baik dari sang ayah Kyai Syamsul dan sang ibu Nyai Siti Maimunah. Perjalanan menimba ilmu beliau tekuni di pesantren sejak usia 13 tahun. Ketika itu, beliau mondok di Pondok Pesantren Banyuanyar Madura.

Tiga tahun kemudian, yakni usia 16 tahun, beliau diterima menjadi murid madrasah Shalatiyah Makkah. Di kota penuh berkah itu, beliau menimba ilmu nahwu, tauhid, fiqh, dan tasawwuf kepada para ulama besar di jamannya seperti Sayyid Abbas Al-Maliki, Sayyid Hasan Al-Yamani, Syaikh Hasan Al-Massad, dan Sayyid Muhammad Amin al-Kutby.

Tak henti di situ, semangat beliau dalam mengkaji dan menimba ilmu agama berlanjut dengan singgah di beberapa pesantren yakni : Pesantren Sidogiri Pasuruan, Pesantren Buduran Panji Sidoarjo, Pesantren Bangkalan, dan di Pesantren Tebu Ireng Jombang.

Kesungguhan beliau untuk mendapat ilmu yang bermanfaat tidak hanya dengan singgah dari pesantren ke pesantren. Beliau juga menjalani tirakat dengan gaya hidup yang sederhana. Ketika mau berangkat mondok, beliau hanya berbekal keranjang untuk mewadahi pakaian dan bahan makanan secukupnya. Saat waktu liburan dari pesantren, Kyai Syamsul sang ayah tetap melatih putranya untuk belajar dengan memberi tugas menghafal nazhom Alfiyyah dan Imrithi.

Kesungguhan Kyai As’ad dalam memperdalam ilmu agama didukung pula kesinambungan batin beliau dengan guru-gurunya. Kyai As’ad menuturkan bahwa selama mondok dirinya merasa bukan termasuk santri yang istimewa. Namun beliau bersyukur karena dicintai para kiainya. Semua kiai dimata kyai As’ad memiliki kelebihan dan keistimewaan di bidangnya masing-masing; karena itu, sulit bagi beliau untuk mengatakan siapa yang paling berpengaruh dalam menempa kehidupan beliau.

Potret beliau sebagai ulama, insan yang dimuliakan Allah swt. tentu menjadi pembelajaran bagi kita bahwa ada keteladanan dari beliau yang bisa kita terapkan, salah satunya adalah kesungguhan beliau dalam belajar. Kyai As’ad menjadi sosok yang mendalam ilmu agamanya dengan proses yang panjang, ketekunan, dibarengi dengan akhlak mulia. Mengingatkan kita bahwa ilmu adalah cahaya yang akan abadi pada hati yang bersih. Dengan ilmu pula kita mestinya semakin dekat kepada Allah swt. sehingga menjadi manusia yang mulia.

Wallahu a’lam

Bagikan:

Lihat Juga

Kitab Al-Ulama’ Al Mujaddidun karya Kyai Maimoen Zubair

NUMUDA.ID – Sudah lebih dari tujuh hari KH Maimoen Zubair yang kerap disapa Mbah Moen, meninggalkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.