godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Beranda / Artikel / Paramuda / Ziarah, Roman Unik yang Tetap Menarik

Ziarah, Roman Unik yang Tetap Menarik

Judul: Ziarah
Pengarang: Iwan Simatupang
Angkatan: 1966
Penerbit: Djambatan
Tebal: 148 Halaman

Novel pertama karya Iwan Simatupang ini sebenarnya bukan karya baru. Ditulis tahun 1960-an, hingga saat ini Ziarah menyimpan nilai unik. Sejak awal hingga akhir cerita, pembaca tidak mendapati satu pun nama tokoh, selain nama tokoh figuran. Berhasil memikat pembaca dengan rasa penasaran, tokoh-tokoh dalam novel ini digambarkan melalui status sosial serta permasalahan sosial budaya yang terjadi.

Tidak jarang di sela cerita, apa yang digambarkan Iwan secara ‘aneh’ dan tidak biasa sebenarnya mengkritik dan menyindir situasi sosial politik dan budaya Indonesia ketika itu. Bahkan jika direfleksikan dengan saat ini, ada permasalahan yang masih relevan.
Dalam balutan alur cerita yang maju mundur, Iwan menceritakan sosok laki-laki bekas pelukis yang sebenarnya begitu mencintai istrinya yang telah meninggal pada saat itu.

Perwujudan cinta itu digambarkan dari waktu ke waktu yang dilalui bekas pelukis dengan tanpa ziarah ke makam sang istri, hingga perilaku tak lazim dan berbagai fenomena yang mempertemukan bekas pelukis untuk akhirnya berpikir dan memutuskan bekerja di pekuburan agar bisa selalu dekat dengan orang yang dicintainya.
Jika kita membaca riwayat Iwan, novel Ziarah tak jauh dari pengalaman dan perasaan pribadi Iwan.

Novel ini menjadi persembahan bagi mendiang istri pertamanya yang berkebangsaan Belanda. Pengalaman Iwan melanglang buana mempelajari budaya dan filsafat memberi warna yang ditampilkan lewat kecerdasan tokoh Opseter yang merupakan lulusan doktoral filsafat namun memilih bekerja di pekuburan.

Selain alur dan kisah yang menarik, banyak kutipan yang membuat pembaca sejenak tadabbur. Diantara kutipan novel ini :

“Setiap manusia hidup terikat pada manusia mati tertentu. Semiskinnya seorang manusia hidup, ia setidaknya memiliki satu, atau lebih, kerabat yang telah mati. Lembaga yang mengesahkan rasa puas pemikiran ini adalah : kuburan,” – Ziarah. hlm 84

Bagi penikmat sastra, novel ini sayang untuk dilewatkan.

Bagikan:

Lihat Juga

Gencarkan Syiar, IPNU IPPNU UNISMA Kenalkan NU Sejak Dini

Dewasa ini, berbagai ideologi semakin mudah dikenal dan mulai berkembang di Indonesia. Terutama di kalangan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.