godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Beranda / Artikel / Paramuda / ‘Super Blue Blood Moon’ Mengingatkan atau Melalaikan?

‘Super Blue Blood Moon’ Mengingatkan atau Melalaikan?

Awal pekan ini, media nasional maupun swasta terasa sering berkoar tentang kejadian langka itu. Yah, Super Blue Blood Moon yang akan terjadi tepat pada tanggal 31 Januari 2018, tadi malam. Kejadian yang hanya terjadi sekali dalam 150 tahun atau tepatnya 152 tahun lalu kejadian serupa pernah terjadi pula, begitulah seperti yang diungkapkan di laman bbc Indonesia.

Mendengar akan kejadian langka tersebut, ada beberapa respon yang dilakukan oleh warga setempat. Mulai dari yang sengaja ingin melihatnya langsung, menikmatinya lewat daring media, ada beberapa yang melaksanakan sholat gerhana bulan (sholat khusuf) dan ada juga sebagian yang acuh tak acuh. Dan yang lebih lucu, ada sebagian yang mengabadikan momen ini hanya untuk menambah beranda story media sosialnya penuh, seakan ia telah melihat dan mengerti tentang apa yang terjadi atau bisa jadi sebaliknya, hanya ingin terlihat dipuji, oleh followernya sendiri. Itu haknya. Namun akan sangat disayangkan sekali jika peristiwa ini hanya dijadikan sebagai peristiwa biasa, hanya terlewati begitu saja tanpa belajar tentang apa yang terjadi di dalamnya. Ironis bukan? Sangatlah sia-sia belaka.

Seperti namanya yang panjang “Super Blue Blood Moon”, nama ini diambil dari tiga kejadian langsung yang berhubungan dengan bulan.

Satu ialah Supermoon, dimana bulan berada pada jarak terdekat dengan bumi (red: perigee) yang membuat penampakannya 14% lebih besar dan 30% lebih terang daripada biasanya.

Yang kedua, adalah Blue Moon. Istilah ini diberikan untuk kemunculan bulan purnama kedua dalam 1 bulan kalender. Data lain menyebutkan bahwa bulan purnama kesatu terjadi pada tanggal 1 Januari 2018 sebelumnya.

Terakhir, Blood Moon ialah dimana posisi matahari-bumi-bulan berada pada garis sejajar. Kejadian inilah yang menyebabkan warna jingga kemerah-merahan yang tampak pada bulan, dikarenakan sinar matahari yang seharusnya diterima bulan pada saat itu terhalang oleh bumi dan menyebabkan warna biru yang jelas pada atmosfer bumi serta menyebarkan warna jingga pada permukaan bulan (diolah dari berbagai sumber).

Dari kejadian ini, mungkin kita akan sedikit teringat dengan kisah Nabi Ibrahim saat mencari Tuhannya. Kala itu, beliau mencari Tuhan lewat pertanda alam, mulai dari melihat matahari, bulan dan bintang. “Inilah Tuhanku?”, sebuah pernyataan yang pada dasarnya bukan pernyataan. Makna sesungguhnya ialah bentuk pengingkaran, seperti saat kita melihat orang lemah yang tak mampu berdiri, lalu kita berkata “hadza nashiri” (inikah penolongku?) jadi makna kalimat “inilah Tuhanku?” semestinya diartikan “inikah Tuhanku?”. Nabi Ibrahim tidak serta merta langsung menerimanya, beliau terlebih dahulu berpikir siapakah yang patut untuk disembah. Karena ia yakin, ada “Dia”, Sang Maha Kuasa yang mengatur segala tatanan dan aturan di alam semesta ini, termasuk yang mengatur bulan, bintang dan matahari.

Apa yang diciptakan oleh Allah di alam semesta ini pada hakikatnya diberikan agar manusia bisa berpikir dan mendalaminya, bukankan demikian juga disebutkan dalam Al-Qur’an?. Seorang Ibnu Sina, dokter sekaligus ilmuan ternama, semakin tunduk terhadap Allah dengan ilmu sel yang didalaminya, Al-Battani, ilmuan muslim bidang astronomi yang semakin merendah dengan ilmu falaqiyahnya. Bahkan ilmuan barat pun, mereka belajar dari kejadian alam. Sebut saja Sir Issac Newton penemu hukum gravitasi, seorang filsuf Yunani, Archimedes dengan hukum ‘Archimedes’ airnya. Mereka semua menjadikan alam sebagai media belajar, berpikir dan bertafakkur (umat islam). Bagaimana dengan kita? Semoga dengan kejadian langka ini semakin membuat kita lebih dekat dengan-Nya, lebih terus mengingat-Nya bukan sebaliknya, melalaikan-Nya.

Penulis : Rizal Fadillah, Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan 2013

“Saat ilmu pengetahuan disatukan diimbangi dengan iman, maka disanalah ada kesempatan kita untuk lebih dekat dan mengenal Tuhan, lewat ciptaan-Nya”.

Bagikan:

Lihat Juga

Saatnya “STOP SEXUAL HARASSMENT”, Srikandi IPPNU Klaten yang Pertama Memulainya

        Ada sesuatu yang berbeda Selasa lalu (26/2) di sekretariat Pimpinan Cabang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.