godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Beranda / Artikel / Uswah / KH. Asnawi, Kiai Pegiat Bahtsul Masail Itu Telah Tiada

KH. Asnawi, Kiai Pegiat Bahtsul Masail Itu Telah Tiada

Banyuwangi (numuda.com) – Beberapa kawan yang sedang asyik masyuk beradu tabir dari kitab kuning masing-masing tiba-tiba berhenti. Beberapa orang tergopoh kala mobil Cery warna hijau datang. Para pegiat bahtsul masail dari MWC NU Banyuwangi Kota yang sedang syawir di Mushollah PP. Darunnajah Tukangkayu mafhum, kalau Cery itu kendaraan KH. Asnawi.

Tak salah, mobil yang dikendarai putranya tersebut memang sedang mengantar Kiai Asnawi. Tubuhnya yang telah sepuh, harus dipapah untuk berjalan. Duduknya pun tak lagi bersila sebagaimana lazimnya para musyawirin. Beliau membutuhkan kursi atawa bantal yang cukup untuk menyanggah dirinya.

Meski usianya telah senja, rambut pun memutih sepenuhnya dan kerutan juga memenuhi sekujur kulitnya, tak mengendurkan sama sekali semangatnya dalam forum yang membahas persoalan keagamaan di tengah masyarakat. Pemahaman tentang bahtsul masail yang telah ditekuninya semenjak remaja, telah membentuk karakter tersendiri dalam memberikan argumentasi.

Biasanya, kami yang masih muda-muda ini, merujuk kitab-kitab semacam Iqna, I’anatut Tholibin, Fathul Wahab dan tak jarang Fiqhul Islam wa Adilatih yang berjilid-jilid itu. Tentu, saja dengan penjelasan yang panjang [dan rumit]. Berbeda dengan karakter Kiai Asnawi.

Beliau diam. Hanya mendengarkan satu per satu argumen dari para peserta bahtsu. Hingga, ketika kami tak kunjung menemukan kata mufakat, Kiai Asnawi angkat bicara. Merujuk ibarah dari kitab-kitab elementer semacam Safinah, Sulam Taufiq, Fathul Qorib atau kadang Fathul Muin. Kebanyakan telah dihafalnya rujukan-rujukan tersebut. Kadang pula dicatat dalam lembaran. Ini artinya, beliau tak sekedar datang, tapi mempersiapkan diri sebelumnya.

Jika, beliau telah memberikan paparan, sesuatu yang awalnya rumit, dapat dicerna secara sederhana. Tak bertele-tele. Subtantif pada inti permasalahan.

“Al-Fatehah….” begitu biasanya gumam Kiai Asnawi diujung pembahasan. Pertanda satu soal telah dimufakati.

Tak heran, kiranya, jika Kiai Asnawi masih demikian semangat hadir dalam forum bahtsul masail di usia senjanya. Terakhir, sekira dua bulan lalu, di Kelurahan Panderejo beliau hadir dalam forum tersebut. Ini sepengetahuan penulis adalah forum bahtsul masail terakhir yang diikutinya.

Aktivitasnya dalam dunia akademik ala santri ini, ditekuni setidaknya sejak tahun 1964. Beliau diangkat menjadi sekretaris bahtsul masail dalam forum Majelis Musyawarah Pondok Pesantren (MMPP) di Banyuwangi. Kala itu, ketuanya adalah Kiai Mukhtar Syafaat Blokagung.

Menurut riwayat, Kiai Syafaat cukup mempercayakan pada santrinya tersebut, dalam persoalan membuat rumusan hasil bahtsul masail para kiai-kiai di ujung timur Jawa itu.

Kepercayaan ini tentu bukan sembarangan. Merumuskan jawaban bahtsul masail itu, pekerjaannya para kiai yang telah ngelentek pemahaman fiqihnya. Yang paling mumpuni ketimbang yang lain. Maka, kepercayaan Kiai Syafaat pada Asnawi muda tersebut menandakan kecakapannya dalam per-kitabkuning-an.

Beberapa tahun lalu, 2014 kalau tak salah ingat, Kiai Asnawi sempat terlibat polemik dengan Habib Hasyim Assegaf. Pada satu ceramah di Masjid Agung Baiturrahman, Habib lulusan Hadramaut tersebut mempersoalkan doa bilal sholat Jumat setelah proses “serah terima” tongkat dengan sang khotib. Tak ada dasarnya amaliah tersebut. Demikian isi ceramah itu.

Sontak saja, Kiai Asnawi berang dengan statment tersebut. Alasan pertama, ia menilai Habib Hasyim menyalahi etika dalam kultur santri dan NU. Seharusnya, keputusan-keputusan fiqhiyah sebagaimana diatas tak keburu difatwakan tanpa melalui forum bahtsul masail.

Ia segera menemui Habib Hasyim sembari membawa beberapa literatur guna membantahnya. Beliau pun sempat menggelar bahtsul masail, khusus membahas masalah tersebut. “Seberapa pintar seseorang, kalau memutuskan sesuatu tanpa musyawarah, itu sombong namanya,” kurang lebih demikian nasehatnya kala itu dengan bahasa Osing yang deles, lantang meski bergetar.

Akhir cerita, polemik tersebut berhenti dengan sendirinya. Beberapa bilal sholat Jumat yang sempat berubah cara, kembali ke aturan semula. Kembali membaca doa “Allahumma qowil Islam minal muslimin wal muslimat …. ila akhirihi…”

Kini, Kiai Asnawi telah memungkasi tugas kehambaannya di muka bumi. Sabtu malam, 6 Mei 2017, sebuah kabar duka bersahutan di grup-grup Whatsapp. Mengabarkan wafatnya kiai sepuh NU Banyuwangi tersebut.

Allahummagfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu anhu….

Bagikan:

Lihat Juga

Kitab Al-Ulama’ Al Mujaddidun karya Kyai Maimoen Zubair

NUMUDA.ID – Sudah lebih dari tujuh hari KH Maimoen Zubair yang kerap disapa Mbah Moen, meninggalkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.